UNIVERSITAS BENGKULU

Di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap perubahan iklim, eksploitasi sumber daya alam, dan tingginya emisi karbon dari industri modern, para ilmuwan terus berlomba menemukan material yang lebih ramah lingkungan tanpa mengurangi kekuatan dan daya tahannya. Selama lebih dari satu abad, logam dan serat sintetis berbasis minyak bumi telah menjadi tulang punggung berbagai sektor industri. Namun, di balik keunggulannya, material tersebut menyisakan persoalan serius berupa tingginya konsumsi energi, limbah yang sulit terurai, serta jejak karbon yang terus membebani bumi.

Prof. Hendri Hestiawan saat menyampaikan orasi ilmiah dalam acara pengukuhan Guru Besar Unib.(foto:bayupi)

Di tengah tantangan global tersebut, Guru Besar Bidang Ilmu Teknologi Komposit Fakultas Teknik Universitas Bengkulu (Unib), Prof. Dr. Ir. Hendri Hestiawan, ST, MT, menghadirkan sebuah gagasan yang menarik sekaligus menjanjikan.

Melalui orasi ilmiah berjudul “Pemanfaatan Serat Alam sebagai Bahan Penguat Material Komposit: Inovasi Berkelanjutan untuk Masa Depan Material Ramah Lingkungan”, ia menunjukkan bahwa solusi material masa depan justru dapat ditemukan dari kekayaan hayati yang tumbuh di sekitar masyarakat, termasuk dari Bengkulu.

Orasi ilmiah tersebut disampaikan dalam Rapat Senat Terbuka Universitas Bengkulu pada pengukuhan enam Guru Besar baru di Gedung Serba Guna (GSG) Unib, Rabu (22/7/2026).

Di hadapan sivitas akademika dan tamu undangan, Prof. Hendri menegaskan bahwa hasil riset yang dipaparkannya bukan penelitian sesaat, melainkan buah perjalanan akademik selama hampir dua dekade bersama para kolega dan mahasiswa di Program Studi Teknik Mesin Unib. Penelitian tersebut telah melahirkan berbagai publikasi ilmiah nasional dan internasional serta menghasilkan paten sederhana yang terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

Mengangkat Potensi Lokal Menjadi Teknologi Masa Depan

Menurut Prof. Hendri, Indonesia memiliki kekayaan serat alam yang sangat beragam. Mulai dari serat kenaf, pisang, nanas, bambu hingga serat lantung yang tumbuh di Bengkulu. Ironisnya, sebagian besar potensi tersebut masih dipandang sebagai limbah pertanian atau hanya dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan tradisional yang bernilai ekonomi relatif rendah.

Padahal, apabila dikembangkan melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi, serat-serat alami tersebut dapat menjadi bahan baku material komposit yang ringan, kuat, terbarukan, mudah terurai secara alami, serta jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan material sintetis.

“Indonesia memiliki modal alam yang sangat besar untuk mengembangkan material komposit berbasis serat alam. Potensi ini harus diubah menjadi kekuatan teknologi yang memiliki nilai tambah tinggi,” menjadi pesan utama yang disampaikan dalam orasi ilmiah tersebut.

Bagi Prof. Hendri, pengembangan material komposit berbasis serat alam bukan sekadar penelitian laboratorium, tetapi juga bagian dari upaya meningkatkan nilai ekonomi sumber daya lokal sekaligus mendukung pembangunan industri hijau yang berkelanjutan.

Prof. Hendri Hestiawan dan lima Guru Besar baru Unib saat dikukuhkan oleh Rektor dan Ketua Senat Unib.(hms1)

Serat Lantung Bengkulu Menarik Perhatian Dunia Riset

Salah satu fokus utama penelitian Prof. Hendri adalah serat lantung (Artocarpus elasticus), tanaman yang tumbuh di kawasan Bukit Barisan dan telah lama dimanfaatkan masyarakat Bengkulu sebagai bahan baku tas, tali, maupun berbagai produk kerajinan.

Keunikan tanaman ini terletak pada proses pemanenannya. Kulit batang pohon dapat diambil tanpa harus menebang pohonnya sehingga tanaman tetap hidup dan mampu menghasilkan kulit baru. Karakter tersebut menjadikan serat lantung sebagai sumber daya yang berkelanjutan sekaligus ramah lingkungan.

Selain mudah diperoleh, serat lantung juga memiliki kandungan selulosa yang tinggi sehingga berpotensi menghasilkan kekuatan mekanik yang baik apabila digunakan sebagai bahan penguat material komposit.

Bagi masyarakat Bengkulu, lantung mungkin selama ini hanya dikenal sebagai bahan kerajinan. Namun melalui penelitian yang dilakukan di Fakultas Teknik Unib, tanaman lokal tersebut mulai dipandang sebagai kandidat material teknik yang berpotensi dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan industri modern.

Menjawab Tantangan Material Komposit Ramah Lingkungan

Meski memiliki banyak keunggulan, penggunaan serat alam dalam material komposit masih menghadapi tantangan. Permukaan serat alam secara alami mudah menyerap air sehingga ikatannya dengan matriks polimer kurang optimal. Akibatnya, kekuatan material komposit dapat menurun apabila tidak dilakukan perlakuan tertentu.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Prof. Hendri bersama tim penelitinya melakukan berbagai eksperimen menggunakan perlakuan alkali dengan larutan Natrium Hidroksida (NaOH). Tujuannya adalah membersihkan permukaan serat dari lignin, pektin, lilin alami, serta berbagai pengotor lain sehingga permukaan serat menjadi lebih kasar dan mampu membentuk ikatan yang lebih kuat dengan matriks polimer.

Hasil penelitian menunjukkan perlakuan alkali terbukti mampu memperbaiki struktur permukaan serat lantung. Pengamatan menggunakan mikroskop elektron (SEM) memperlihatkan permukaan serat menjadi lebih bersih dan memiliki daya ikat yang lebih baik terhadap polimer. Sementara itu, hasil karakterisasi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) menunjukkan peningkatan indeks kristalinitas, yang berkorelasi dengan meningkatnya kekuatan serat sebagai bahan penguat komposit.

Prof. Hendri Hestiawan bersama lima Guru Besar baru Unib usai dikukuhkan.(foto:hms1)

Meningkatkan Kekuatan Material

Keberhasilan perlakuan tersebut kemudian dibuktikan melalui serangkaian pengujian mekanik yang meliputi uji tarik, uji lentur (bending), dan uji impak menggunakan standar ASTM.

Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan alkali dengan larutan NaOH konsentrasi empat persen selama dua jam memberikan hasil paling optimal untuk meningkatkan kekuatan tarik maupun kekuatan lentur material komposit berbasis serat lantung. Sementara untuk ketangguhan terhadap benturan, perlakuan dengan konsentrasi enam persen selama satu jam menghasilkan performa terbaik.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa modifikasi sederhana pada permukaan serat mampu meningkatkan kualitas material secara signifikan. Ikatan antara serat dan matriks menjadi lebih kuat sehingga distribusi beban berlangsung lebih merata dan material mampu menahan gaya yang lebih besar.

Menurut Prof. Hendri, hasil penelitian ini menjadi dasar penting dalam pengembangan material komposit berbasis serat alam yang tidak hanya kuat, tetapi juga lebih ringan dan ramah lingkungan dibandingkan material konvensional.

Peluang Besar bagi Industri Masa Depan

Perkembangan industri global menunjukkan kebutuhan material komposit terus meningkat, terutama pada sektor otomotif dan transportasi yang membutuhkan material ringan untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus mengurangi emisi karbon. Karena itu, penelitian mengenai material komposit berbasis serat alam memiliki prospek yang sangat menjanjikan.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut menjadi peluang strategis. Kekayaan biodiversitas yang dimiliki negeri ini dapat diolah menjadi produk teknologi bernilai tinggi, menggantikan ketergantungan terhadap material sintetis impor sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional.

Dalam konteks Bengkulu, pengembangan serat lantung juga berpotensi membuka rantai ekonomi baru. Tanaman yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan dapat berkembang menjadi komoditas industri berbasis teknologi, memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus memperkuat identitas daerah sebagai penghasil material ramah lingkungan.

Prof. Hendri Hestiawan saat menyampaikan Orasi Ilmiah dalam acara pengukuhan Guru Besar.(foto:bayupi)

Alam Menyediakan Solusi

Menutup orasi ilmiahnya, Prof. Hendri mengajak sivitas akademika dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus membangun kolaborasi riset dalam mengembangkan material komposit berbasis serat alam.

Baginya, perjalanan penelitian selama hampir 20 tahun telah membuktikan bahwa alam sesungguhnya menyediakan banyak solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi manusia. Serat-serat alami yang selama ini dianggap sederhana ternyata menyimpan potensi besar sebagai material rekayasa masa depan.

Ia menegaskan bahwa serat lantung menjadi contoh bagaimana sumber daya lokal dapat diangkat melalui riset ilmiah menjadi inovasi teknologi yang berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.

“Sebagaimana untaian serat kecil yang dipintal menjadi tali yang kuat, demikian pula kolaborasi para peneliti, mahasiswa, pemerintah, dan dunia industri diyakini mampu melahirkan inovasi besar bagi kemajuan bangsa.”

Pesan itu menjadi penutup orasi ilmiah yang bukan hanya berbicara tentang teknologi material, tetapi juga tentang optimisme bahwa masa depan industri hijau Indonesia dapat dibangun dari kekayaan alam yang tumbuh di daerahnya sendiri.

Prof. Hendri Hestiawan mendapat apresiasi dan ucapan selamat dari koleganya Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) Dapil Bengkulu Destita Khairilisani.(foto:hms1)

Rekam Jejak Akademik

Prof. Dr. Ir. Hendri Hestiawan, ST, MT merupakan Guru Besar Bidang Ilmu Teknologi Komposit pada Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Bengkulu. Pria kelahiran Bengkulu, 4 Juli 1974 ini menempuh seluruh pendidikan tingginya di Program Studi Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), mulai dari jenjang sarjana (S1) yang diselesaikan pada 1997, magister (S2) pada 2004, hingga meraih gelar doktor (S3) pada 2018.

Selama mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Teknik Universitas Bengkulu, Prof. Hendri aktif mengampu berbagai mata kuliah, antara lain Material Teknik, Metalurgi Fisik, Manajemen Industri, Teknologi Komposit, Pengenalan Lingkungan, Metodologi Penelitian, serta Pemilihan Bahan dan Proses pada program sarjana maupun magister. Ratusan mahasiswa telah berhasil menyelesaikan studi di bawah bimbingannya, sekaligus menjadi bagian dari perjalanan panjang pengembangan keilmuan di Universitas Bengkulu.

Selain menjalankan tridarma perguruan tinggi, Prof. Hendri juga memiliki pengalaman panjang dalam kepemimpinan akademik. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknik Mesin periode 2006–2008, Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Fakultas Teknik periode 2008–2012, dan saat ini dipercaya sebagai Ketua Program Studi Magister Teknik Mesin serta Anggota Senat Universitas Bengkulu.

Berbekal pengalaman akademik, penelitian, dan manajerial tersebut, Prof. Hendri terus mengembangkan riset-riset teknologi komposit berbasis serat alam yang tidak hanya berorientasi pada publikasi ilmiah, tetapi juga diarahkan untuk mendukung hilirisasi inovasi, penguatan industri nasional, dan pembangunan berkelanjutan berbasis potensi lokal. [Purna Herawan | Humas].