UNIVERSITAS BENGKULU

Universitas Bengkulu (Unib) kembali menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan melalui lahirnya gagasan-gagasan akademik yang relevan dengan tantangan zaman. Salah satu gagasan tersebut disampaikan oleh Guru Besar Bidang Ilmu Sintesis dan Karakterisasi Material Anorganik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unib, Prof. Dr. Evi Maryanti, S.Si, M.Si, dalam orasi ilmiahnya berjudul “Dari Pigmen Gua hingga Fotokatalis: Manifestasi Mineral dalam Pusaran Waktu dan Teknologi.”

Prof. Evi Maryanti bersama lima Guru Besar lainnya saat dikukuhkan oleh Rektor dan Ketua Senat Unib.(foto:hms1)

Orasi tersebut disampaikan pada Rapat Senat Terbuka Unib dalam rangka pengukuhan enam Guru Besar baru di Gedung Serba Guna (GSG) Unib, Rabu (22/7/2026). Di hadapan sivitas akademika, tamu undangan, dan keluarga besar universitas, Prof. Evi mengajak hadirin menelusuri perjalanan panjang mineral besi oksida, dari bahan pewarna lukisan gua prasejarah hingga menjadi material canggih untuk teknologi lingkungan modern.

“Seorang ilmuwan sejati tidak berhenti pada satu jawaban. Ia justru menemukan seribu pertanyaan baru yang lebih bermakna dari sebelumnya,” ujar Prof. Evi mengawali orasinya.

Dalam pemaparannya, Prof. Evi menjelaskan bahwa mineral seperti hematit (Fe₂O₃), goetit, dan magnetit telah digunakan manusia prasejarah sebagai pigmen untuk melukis dinding gua sejak puluhan ribu tahun lalu. Mineral-mineral tersebut menghasilkan warna merah, kuning, coklat, hingga hitam yang masih dapat disaksikan pada berbagai situs seni cadas di Sulawesi, Kalimantan, Papua, dan Nusa Tenggara.

Penelitian yang dipaparkan menunjukkan bahwa perbedaan warna pigmen tidak hanya ditentukan oleh jenis mineral, tetapi juga oleh proses pemanasan dan perubahan struktur kristal yang dilakukan atau dialami oleh material tersebut. Temuan ini mengungkap bahwa manusia prasejarah telah memiliki pengetahuan empiris tentang pengolahan bahan alam jauh sebelum berkembangnya ilmu kimia modern.

Prof. Evi juga menyoroti pentingnya Indonesia dalam sejarah seni dunia. Situs-situs di kawasan karst Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, kini diketahui menyimpan lukisan figuratif dan naratif tertua di dunia, dengan usia lebih dari 51 ribu tahun. Bahkan, penelitian terbaru menunjukkan adanya stensil tangan di Sulawesi yang berumur sekitar 67,8 ribu tahun. Temuan-temuan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat penting perkembangan awal kreativitas dan simbolisme manusia.

Prof. Evi Maryanti foto bersama dengan lima Guru Besar lainnya yang baru dikukuhkan.(foto:hms1)

Dari Pantai Bengkulu ke Teknologi Lingkungan

Tidak berhenti pada kajian arkeometri, Prof. Evi kemudian membawa hadirin ke dunia kimia material modern. Ia menjelaskan bahwa mineral yang sama, terutama besi oksida, kini dikembangkan sebagai fotokatalis, yakni material yang memanfaatkan energi cahaya untuk menguraikan polutan berbahaya menjadi senyawa yang lebih aman.

Menurutnya, Bengkulu memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat potensial untuk tujuan tersebut. Pasir besi di pesisir barat Sumatra mengandung magnetit (Fe₃O₄), sementara pasir lokal kaya silika (SiO₂) dan lempung (clay) mengandung mineral silikat yang dapat dimodifikasi menjadi material fungsional bernilai tinggi.

Rangkaian riset yang dilakukan timnya berhasil mengembangkan berbagai material fotokatalis berbasis mineral lokal, termasuk komposit Fe₃O₄, ZnO, zeolit, dan Metal Organic Frameworks (MOFs). Material tersebut telah diuji untuk mendegradasi zat warna limbah industri tekstil seperti Congo Red dan Remazol Black B5 dengan efisiensi yang tinggi di bawah sinar matahari.

Prof. Evi Maryanti saat menyampaikan orasi ilmiah di hadapan rapat senat Unib.(foto:hms1)

Mineral sebagai Benang Merah Peradaban

Bagian paling menarik dari orasi ini adalah ketika Prof. Evi menunjukkan bahwa penelitian arkeologi dan fotokatalisis sebenarnya bertemu pada satu titik, yaitu mineral besi oksida.

“Manusia prasejarah menemukan mineral besi oksida dan menjadikannya tinta abadi untuk bercerita. Ilmuwan modern menemukan mineral besi oksida dan menjadikannya katalis untuk memulihkan bumi. Keduanya adalah ekspresi kecerdasan manusia dalam memanfaatkan hadiah alam,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa teknik analisis yang digunakan untuk meneliti pigmen gua, seperti XRD, FTIR, SEM-EDS, dan spektroskopi Raman, juga digunakan untuk mengkarakterisasi material fotokatalis modern. Dengan demikian, kajian tentang warisan budaya dan pengembangan teknologi lingkungan saling memperkaya dan membuka wawasan ilmiah baru.

Prof. Evi Maryanti saat menyampaikan orasi ilmiah di hadapan rapat senat Unib.(foto:hms1)

Kontribusi bagi SDGs dan Masa Depan

Menurut Prof. Evi, pengembangan material fotokatalis berbasis mineral lokal memiliki relevansi langsung dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi), SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 14 (Ekosistem Laut). Sementara itu, penelitian arkeometri mendukung upaya pelestarian warisan budaya dunia sebagai bagian dari SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan).

Ke depan, ia mendorong pengembangan teknologi pengolahan air limbah berbasis mineral Bengkulu pada skala yang lebih besar, eksplorasi asal-usul mineral pigmen seni cadas Indonesia, serta pengembangan material multifungsi yang menggabungkan kemampuan adsorpsi, fotokatalisis, dan sifat magnetik dalam satu sistem terintegrasi.

Prof. Dr. Evi Maryanti, S.Si, M.Si.

Prof. Evi Maryanti lahir di Bengkulu, 21 Maret 1982. Ia meraih gelar sarjana di Program Studi Kimia Universitas Negeri Padang (2004), gelar magister (2008), dan gelar doktor (2022) di Program Studi Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain aktif dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, Prof. Evi juga pernah menjabat sebagai Ketua Laboratorium Kimia FMIPA Unib, Ketua Program Studi D3 Laboratorium Sains, Koordinator Program Studi S1 Kimia, dan saat ini menjabat sebagai Ketua Jurusan Kimia FMIPA Unib.

Melalui orasi ilmiah tersebut, Prof. Evi Maryanti menunjukkan bahwa penelitian tentang mineral tidak hanya membuka jendela masa lalu peradaban manusia, tetapi juga menghadirkan solusi bagi masa depan lingkungan. Dari dinding gua prasejarah hingga laboratorium modern, mineral menjadi saksi sekaligus penggerak perjalanan ilmu pengetahuan yang terus berkembang. [Purna Herawan | Humas].