UNIVERSITAS BENGKULU

Universitas Bengkulu (Unib) kembali memperkuat kapasitas akademiknya dengan mengukuhkan enam Guru Besar baru dalam Rapat Senat Terbuka Universitas Bengkulu yang digelar di Gedung Serba Guna (GSG) Unib, Rabu (22/7/2026). Pengukuhan ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan keilmuan di lingkungan Unib sekaligus menegaskan komitmen universitas dalam melahirkan akademisi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

Ketua Senat Unib Prof. Herawan saat membuka rapat terbuka dan Rektor Unib Prof. Indra Cayhadinata saat menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar.(foto:hms1)

Pengukuhan dilakukan oleh Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si, dilanjutkan dengan pemasangan samir tanda kehormatan oleh Ketua Senat Universitas Bengkulu, Prof. Dr. Herawan Sauni, S.H, M.S. Suasana berlangsung khidmat dan penuh kebanggaan, disaksikan para anggota senat, jajaran guru besar, Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) Destita Khairilisani, unsur Forkopimda Provinsi Bengkulu, pimpinan perguruan tinggi mitra, mitra perbankan, sivitas akademika, serta ratusan keluarga dan kolega para profesor yang dikukuhkan.

Enam Guru Besar yang resmi dikukuhkan yaitu Prof. Dr. Fahrudin Js Pareke, S.E, M.Si dan Prof. Dr. Slamet Widodo, S.E, M.S sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Prof. Dr. Amancik, S.H, M.Hum sebagai Guru Besar Bidang Hukum Pemilu Fakultas Hukum, Prof. Dr. Emelia Kontesa, S.H, M.Hum sebagai Guru Besar Bidang Hukum Tanah Adat Fakultas Hukum, Prof. Dr. Evi Maryanti, S.Si, M.Si sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kimia Anorganik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), serta Prof. Dr. Hendri Hestiawan, S.T, M.T sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Teknologi Komposit Fakultas Teknik.

Rektor Unib saat mengukuhkan keenam Guru Besar dan pemasangan samir oleh Ketua Senat Unib.(foto:hms1)

Rektor Unib saat mengukuhkan keenam Guru Besar dan pemasangan samir oleh Ketua Senat Unib.(foto:hms1)

Sebagai bagian dari tradisi akademik, masing-masing Guru Besar menyampaikan orasi ilmiah yang mencerminkan kepakaran dan hasil riset unggulan di bidang keilmuannya. Seluruh rangkaian kegiatan juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Unib TV sehingga dapat disaksikan sivitas akademika maupun masyarakat luas.

Prof. Fahrudin Js Pareke membuka rangkaian orasi dengan tema “Humanizing Performance Melalui Resource Cascade: Membangun Kinerja Manusia yang Berkelanjutan di Era Kecerdasan Artifisial.” Selanjutnya, Prof. Amancik mengangkat topik “Bantuan Sosial Dalam Pemilihan Umum di Indonesia: Regulasi, Praktik dan Pembatasan.” Prof. Evi Maryanti kemudian memaparkan orasi berjudul “Dari Pigmen Gua Hingga Fotokatalis: Manifestasi Mineral Dalam Pusaran Waktu dan Teknologi.”

Keenam Guru Besar saat menyampaikan orasi ilmiah.(foto:hms1-bayupi)

Pada sesi berikutnya, Prof. Slamet Widodo menyampaikan orasi bertajuk “Membangun Spiritualitas dan Kebermaknaan Kerja Pegawai: Perspektif Keselarasan Individu dan Organisasi pada Sektor Publik.” Dilanjutkan Prof. Emelia Kontesa dengan orasi “Merebut Kembali Akar Keadilan Agraria Bagi Masyarakat Hukum Adat (Konstitusionalisme Agraria Melawan Land Grabbing).” Rangkaian orasi ditutup oleh Prof. Hendri Hestiawan melalui paparan “Pemanfaatan Serat Alam Sebagai Bahan Penguat Material Komposit: Inovasi Berkelanjutan untuk Masa Depan Material Ramah Lingkungan.”

Dengan pengukuhan tersebut, jumlah Guru Besar aktif Universitas Bengkulu kini mencapai 92 orang. Penambahan ini tidak hanya memperkuat sumber daya akademik universitas, tetapi juga menjadi indikator berkembangnya budaya riset, inovasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang menjadi fondasi perguruan tinggi menuju kampus yang unggul, inklusif, inovatif, dan berdampak.

Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata saat menyampaikan sambutan.(foto:hms1-bayupi)

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Bengkulu, Prof. Indra Cahyadinata, menyampaikan bahwa pengukuhan Guru Besar merupakan momentum yang sangat istimewa bagi keluarga besar Universitas Bengkulu.

Menurutnya, jabatan Guru Besar bukan sekadar pencapaian akademik tertinggi bagi seorang dosen, melainkan buah dari perjalanan panjang yang ditempuh dengan dedikasi, integritas, dan pengabdian dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Pengukuhan enam Guru Besar hari ini merupakan kebanggaan bagi Universitas Bengkulu sekaligus bukti bahwa tradisi akademik dan budaya keilmuan terus tumbuh dan berkembang di lingkungan kampus kita,” ujar Rektor.

Rektor dan Ketua Senat Unib foto bersama dengan keenam Guru Besar yang telah dikukuhkan.(foto:hms1)

Ia menambahkan, bertambahnya jumlah Guru Besar menjadi representasi keberhasilan Universitas Bengkulu dalam membangun ekosistem akademik yang semakin kuat, meningkatkan kapasitas keilmuan, serta melahirkan berbagai karya dan inovasi yang berdampak bagi pembangunan daerah, nasional, maupun global.

Mengutip pesan Imam Al Ghazali, Rektor mengingatkan bahwa ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia menuju kebijaksanaan dan keadilan. Karena itu, seorang Guru Besar memiliki amanah yang jauh lebih besar daripada sekadar menyandang gelar akademik.

“Guru Besar bukanlah akhir dari perjalanan akademik, tetapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus menghasilkan pemikiran, penelitian, inovasi, dan pengabdian yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Keenam Guru Besar Unib yang baru dikukuhkan foto bersama dengan undangan.(foto:hms1)

Pada kesempatan tersebut, Rektor juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh Guru Besar yang baru dikukuhkan beserta keluarga, kolega, mahasiswa, dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sepanjang perjalanan akademik mereka.

Ia berharap para profesor baru terus melahirkan karya-karya ilmiah terbaik, menjadi inspirasi bagi generasi muda, memperkuat reputasi Universitas Bengkulu di tingkat nasional maupun internasional, serta memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan visi “Universitas Bengkulu Unggul, Inklusif, Inovatif, Berdaya Saing Global, dan Berdampak untuk Indonesia Emas.” [Purna Herawan | Humas].