UNIVERSITAS BENGKULU

Komitmen Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Bengkulu (Unib) dalam membangun budaya literasi dan mendorong perempuan untuk terus berkarya diwujudkan melalui peluncuran buku antologi berjudul Merajut Asa dan Cerita di Bumi Merah Putih. Buku yang memuat kisah-kisah inspiratif karya para anggota DWP Unib tersebut resmi diluncurkan pada pertemuan rutin bulanan DWP Unib di Ruang Rapat Utama Gedung Layanan Terpadu (GLT) Universitas Bengkulu, Selasa (14/7/2026).

Ketua DWP Unib Dr. Gushevinalti secara simbolis menyerahkan buku antalogi kepada Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata.(foto:ist-arif)

Peluncuran buku ditandai dengan penyerahan secara simbolis buku antologi oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan Universitas Bengkulu periode 2025–2029, Dr. Gushevinalti, S.Sos, M.Si, kepada Rektor Universitas Bengkulu, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P, M.Si, disaksikan para Wakil Rektor, para Dekan dan Wakil Dekan, dosen, serta anggota Dharma Wanita Persatuan Unib.

Acara tersebut tidak hanya menjadi momentum peluncuran buku, tetapi juga dirangkaikan dengan talkshow bertema “Transformasi Literasi Seorang Ibu” yang menghadirkan drh. Majestika, M.S sebagai narasumber dan dipandu oleh Ratih Kartika sebagai moderator. Di sela-sela acara, Rektor Unib juga memberikan piagam penghargaan kepada masing-masing penulis buku.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Bengkulu, Prof. Indra Cahyadinata, menyampaikan apresiasi atas konsistensi DWP Unib yang selama ini aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan yang memberikan nilai tambah bagi anggotanya, mulai dari diskusi, pelatihan hingga kegiatan literasi.

Menurut Rektor, terbitnya buku antologi tersebut menjadi bukti bahwa semangat berkarya tidak mengenal batas profesi maupun latar belakang.

“Buku ini menunjukkan bahwa menulis bukanlah monopoli kaum intelektual di menara gading, melainkan hak setiap insan yang memiliki cerita untuk dibagikan. Semoga tulisan-tulisan ini mampu menghadirkan inspirasi, motivasi, dan semangat bagi siapa pun, terutama kaum perempuan, bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar, menulis, dan berkarya,” ujar Prof. Indra Cahyadinata.

Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata memberikan piagam penghargaan kepada para penulis buku.(foto:hms1)

Rektor menambahkan, kehadiran buku tersebut juga mencerminkan peran strategis perempuan dalam membangun keluarga, masyarakat, sekaligus memperkuat budaya akademik melalui gerakan literasi. Ia berharap program serupa dapat terus berlanjut dan menjadi bagian dari kontribusi nyata Universitas Bengkulu dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berdampak bagi masyarakat.

Ketua Dharma Wanita Persatuan Unib, Dr. Gushevinalti, menjelaskan bahwa buku Merajut Asa dan Cerita di Bumi Merah Putih bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan kumpulan pengalaman hidup yang lahir dari ketulusan hati 25 perempuan yang sehari-hari menjalankan beragam peran sebagai istri, ibu, pendamping keluarga, sekaligus anggota masyarakat yang aktif berkarya.

Menurutnya, di tengah berbagai kesibukan dan tanggung jawab, para penulis masih mampu menyediakan ruang untuk menuangkan pengalaman hidup menjadi karya yang dapat menginspirasi banyak orang.

“Saya merasa bangga dan terharu membaca satu per satu naskah yang mereka tuliskan. Di balik setiap cerita tersimpan perjuangan, harapan, ketabahan, dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Buku ini lahir bukan dari ambisi, tetapi dari ketulusan untuk berbagi pengalaman agar dapat menjadi inspirasi bagi orang lain,” ungkap Gushevinalti.

Ia menjelaskan, pemilihan judul Merajut Asa dan Cerita di Bumi Merah Putih memiliki makna yang mendalam. Bengkulu dikenal sebagai Bumi Merah Putih, tanah kelahiran Ibu Fatmawati, penjahit Sang Saka Merah Putih, sekaligus menjadi tempat para penulis mengabdikan diri dan membangun keluarga.

“Ada yang lahir di Bengkulu, ada pula yang datang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri. Namun semuanya dipersatukan oleh tempat ini, tempat mereka mengabdi, membesarkan keluarga, dan merajut harapan bersama,” ujarnya.

Foto bersama para penulis buku antologi Merajut Asa dan Cerita di Bumi Merah Putih.(foto:hms1)

Gushevinalti juga mengungkapkan empat hal yang menjadikan buku tersebut istimewa. Pertama, seluruh tulisan lahir dari hati dan pengalaman nyata para penulis. Kedua, setiap cerita memiliki karakter dan sudut pandang yang berbeda sehingga menghadirkan keberagaman kisah kehidupan. Ketiga, bahasa yang digunakan ringan dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Keempat, buku ini menghadirkan perspektif perempuan yang selama ini sering luput dari perhatian, padahal memiliki peran penting dalam membangun keluarga dan masyarakat.

Keunikan lainnya, lanjut Gushevinalti, seluruh penulis bukanlah penulis profesional. Mereka adalah ibu-ibu yang sebagian besar baru pertama kali menulis buku. Namun justru dari pengalaman nyata itulah lahir cerita-cerita yang autentik, jujur, dan menyentuh.

“Buku ini menjadi bukti bahwa perempuan tangguh tidak hanya mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan, tetapi juga mampu mengubah pengalaman menjadi pelajaran yang menguatkan orang lain. Semoga buku ini memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya,” tuturnya.

Buku antologi tersebut memuat karya dari 25 penulis, yakni Gushevinalti, Silvia Gandarosa, Sri Suharti, Rosaria Indah, Nunung Nurdjanah, Daisy Novira, Fina Nurmita, Eny Handayani, Lisa Martiah Nila Puspita, Neti Susanti, Dessy Triana, Enny Nugraheni, Devi Silsia, Kartini Rasyid, Reni Anggraini, Tri Wahyuningsih, Partiwi Widiastuti, Irma Badarina, Fitria Dini, Selly Ratna Sari, Henny Johan, Della Maulidiya, Rini, Rini Astuti, dan Ratih Kartika.

Foto bersama Rektor Unib, para Dekan dan Wakil Dekan dengan para penulis buku antologi Merajut Asa dan Cerita di Bumi Merah Putih.(foto:hms1)

Di dalamnya tersaji beragam kisah inspiratif, antara lain “Perjalanan Tur Jejak Rasul ke Mesir, Masjidil Aqsa, dan Jordania” karya Nunung Nurdjanah, “Meniti Jalan Panjang yang Belum Usai” karya Daisy Novira, “Aku Dipanggilnya Ibuk Nenny” karya Eny Handayani, “Malam di Jalan Lintas: Sebuah Memoar Perjalanan” karya Gushevinalti, serta “Bernapas, Berproses, dan Bermimpi di Bumi Merah Putih” karya Ratih Kartika, bersama puluhan kisah inspiratif lainnya.

Buku tersebut diedit dan dilayout oleh Ratih Kartika dan Anisa Nur Utami, sehingga hadir sebagai sebuah karya kolektif yang tidak hanya memiliki nilai literasi, tetapi juga menjadi dokumentasi perjalanan hidup perempuan-perempuan tangguh di lingkungan Universitas Bengkulu.

Sementara itu, narasumber talkshow, drh. Majestika, M.S, mengaku terharu menyaksikan lahirnya buku tersebut. Sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Bengkulu, ia menyampaikan apresiasi atas keberanian para anggota DWP Unib yang berhasil menuangkan pengalaman hidup menjadi sebuah karya.

Talkshow tentang “Transformasi Literasi Seorang Ibu” yang disampaikan drh. Majestika.(foto:hms1)

Menurut mantan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu tersebut, penerbitan buku antologi ini merupakan langkah penting dalam membangun tradisi literasi sekaligus mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi berikutnya.

“Sejak lama saya berharap DWP Unib memiliki buku antologi yang menghimpun kisah-kisah inspiratif para anggotanya. Saya yakin para ibu di DWP Unib memiliki pengalaman hidup yang luar biasa dan layak diwariskan sebagai inspirasi bagi generasi mendatang. Alhamdulillah, hari ini harapan itu terwujud. Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Ibu Gushevinalti beserta seluruh tim yang telah mewujudkan karya luar biasa ini,” ujarnya.

Peluncuran buku ini sekaligus menegaskan bahwa gerakan literasi di Universitas Bengkulu tidak hanya tumbuh di kalangan sivitas akademika, tetapi juga berkembang melalui organisasi Dharma Wanita Persatuan sebagai ruang pemberdayaan perempuan untuk terus belajar, berkarya, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Karya ini diharapkan menjadi inspirasi bahwa setiap pengalaman hidup memiliki nilai, dan setiap perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk meninggalkan jejak melalui tulisan. [Purna Herawan | Humas].