Sebagai wujud komitmen dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, Universitas Bengkulu (Unib) terus memperkuat perannya melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat. Kali ini, fokus perhatian diarahkan pada upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) yang hingga kini masih menjadi salah satu persoalan kesehatan di Kabupaten Bengkulu Utara.



Tim Pengabdi Unib foto bersama dengan perangkat kelurahan dan kader kesehatan Kemumu.(foto:ist-yessi)
Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), tim pengabdian yang merupakan kolaborasi dosen dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menggelar kegiatan sosialisasi sekaligus penguatan kapasitas kader kesehatan di Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara, Selasa (7/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Kelurahan Kemumu tersebut diikuti 34 peserta yang terdiri atas unsur pemerintah kelurahan, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, serta kader Posyandu. Mereka dibekali pengetahuan sekaligus didorong menjadi agen perubahan yang mampu menggerakkan masyarakat dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit DBD.
Tim pengabdian diketuai oleh Dr. dr. Enny Nugrahaeni, M.Biomed, dengan anggota dr. Syeri Febrianti, M.Epid dan Yessilia Osira, S.Sos, M.P. Kegiatan ini juga melibatkan sejumlah mahasiswa dan merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata di tengah masyarakat.



Ketua Tim Pengabdi Dr. Enny Nugrahaeni saat menyampaikan sambutan dan menyerahkan secara simbolis bibit serai merah kepada Lurah Kemumu dan Kader Posyandu.(foto:ist-yessi)
Acara dibuka secara resmi oleh Lurah Kemumu, Wiskarmadi, S.IP, yang menyampaikan apresiasi atas kepedulian Universitas Bengkulu dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
“Kami berharap sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat dapat terus berlanjut. Demam Berdarah Dengue masih menjadi salah satu persoalan nyata yang dihadapi warga Kelurahan Kemumu, sehingga diperlukan kerja sama semua pihak dalam upaya pencegahannya,” ujarnya.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Enny Nugrahaeni, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader kesehatan agar mampu menjadi motor penggerak dalam upaya pencegahan DBD di tingkat keluarga maupun lingkungan.
Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2024, Kabupaten Bengkulu Utara menempati peringkat keempat dengan jumlah kasus DBD tertinggi di Provinsi Bengkulu setelah Kabupaten Mukomuko, Bengkulu Selatan, dan Rejang Lebong. Kondisi tersebut menjadi perhatian bersama karena DBD merupakan penyakit yang dapat dicegah apabila masyarakat memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan.
“Kami hadir sebagai bentuk kepedulian akademik terhadap masih tingginya angka kasus DBD di Bengkulu Utara, termasuk di Kelurahan Kemumu. Kami berharap kegiatan ini mampu meningkatkan pengetahuan, kesadaran, serta komitmen masyarakat untuk bersama-sama mencegah penyebaran DBD sehingga tercipta lingkungan yang bersih, sehat, dan aman bagi seluruh warga,” jelasnya.
Menurut Dr. Enny, pencegahan DBD tidak hanya bergantung pada penanganan medis, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat melalui berbagai langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap hari. Di antaranya menanam tanaman pengusir nyamuk seperti serai merah (Cymbopogon nardus), memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menggunakan losion antinyamuk, menjaga daya tahan tubuh, serta mengintensifkan penyebaran informasi melalui media edukasi kepada masyarakat.



Penyampaian materi tentang pencegahan penyakit DBD oleh Tim Pengabdi Unib.(foto:ist-yessi)
Materi utama dalam sosialisasi disampaikan oleh dr. Syeri Febrianti, M.Epid, yang menjelaskan mengenai penyebab, gejala, cara penularan, hingga langkah-langkah pencegahan penyakit DBD. Ia juga mengenalkan pemanfaatan tanaman serai merah sebagai salah satu alternatif ramah lingkungan untuk mengusir nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyebaran penyakit tersebut.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta, khususnya kader Posyandu, aktif menyampaikan berbagai pertanyaan dan berbagi pengalaman mengenai kondisi kesehatan masyarakat di lingkungan masing-masing. Diskusi tersebut menjadi wadah bertukar informasi sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam membangun gerakan pencegahan DBD berbasis masyarakat.
alah seorang peserta, Waryati, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru dari kegiatan tersebut. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan sehingga masyarakat, khususnya di tingkat keluarga, semakin mampu melakukan upaya pencegahan dan pengendalian DBD secara mandiri,” katanya.
Sebagai bentuk tindak lanjut sekaligus dukungan nyata terhadap gerakan pencegahan DBD berbasis lingkungan, tim pengabdian Universitas Bengkulu menyerahkan bibit serai merah secara simbolis kepada para kader Posyandu. Tanaman tersebut diharapkan dapat dibudidayakan di pekarangan rumah maupun fasilitas umum sehingga selain memperindah lingkungan juga berkontribusi mengurangi populasi nyamuk penyebab DBD.
Melalui kegiatan ini, Universitas Bengkulu kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan menjadi fondasi penting dalam membangun budaya hidup sehat sekaligus menekan angka kasus Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Bengkulu Utara. [Laporan: Yessillia | Editor: Purna Herawan | Humas].