Pulau Enggano merupakan pulau terluar Indonesia yang berdiri kokoh di Samudra Hindia sekitar 170 kilometer dari Kota Bengkulu. Kehidupan masyarakat di pulau ini tak pernah jauh dari laut. Setiap pagi, nelayan berangkat melaut dengan harapan membawa pulang hasil tangkapan terbaik. Namun, selama bertahun-tahun, harapan itu kerap berbenturan dengan persoalan sederhana namun sangat menentukan, yaitu ketersediaan es.



Tim Pengabdi Unib foto bersama dengan masyarakat Kelompok Nelayan Raja Pulau Desa Kaana.(foto:ist-selly)
Bagi nelayan Kelompok Raja Pulau di Desa Kaana, es bukan sekadar pelengkap, melainkan penentu apakah ikan hasil tangkapan dapat dijual atau justru terbuang sia-sia. Ketika pasokan es dari Kota Bengkulu terlambat atau tidak tersedia akibat kendala transportasi laut, sebagian hasil tangkapan tidak mampu bertahan lama. Akibatnya, nilai jual ikan menjadi rendah, bahkan tidak sedikit yang akhirnya harus dibuang.
Kondisi tersebut menjadi salah satu potret nyata tantangan masyarakat pesisir di Enggano. Padahal, pulau seluas sekitar 400,6 kilometer persegi yang dihuni sekitar 4.000 jiwa dari enam desa dan lima suku asli ini memiliki kekayaan sumber daya laut yang melimpah. Selain dikenal memiliki ekosistem hutan dataran rendah, mangrove, dan terumbu karang yang masih terjaga, Enggano juga menghasilkan ikan laut berkualitas tinggi.
Melihat kondisi tersebut, Universitas Bengkulu (Unib) melalui program pengabdian kepada masyarakat hadir membawa solusi yang sederhana, tetapi berdampak besar.
Tim Pengabdi yang merupakan kolaborasi dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) serta Fakultas Pertanian terdiri atas Selly Ratna Sari, S.Spi, M.Si sebagai ketua tim, Rini Mustika Sari Kurnia Pratama, S.Si.T, M.Keb, dan Ir. Laili Susanti, M.Si, menggagas program pemberdayaan masyarakat bertajuk “Transformasi Kelompok Nelayan Raja Pulau melalui Teknologi Pengawetan Alami Kombinasi Pertanian, Perairan, dan Gizi Hasil Laut untuk Indonesia Emas 2045.”



Tim Pengabdi Unib memberikan edukasi kepada nelayan tentang pengelolaan ikan asin dan ikan asap.(foto:ist)
Program yang didanai Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) dan didukung penuh oleh LPPM Unib tersebut tidak hanya memperkenalkan teknologi pengawetan ikan, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap pengelolaan hasil tangkapan.
Jika sebelumnya ikan hanya dijual dalam kondisi segar dengan pendinginan menggunakan es, kini para nelayan dibekali keterampilan mengolah hasil tangkapan menjadi produk bernilai tambah berupa ikan asin dan ikan asap yang memenuhi standar kesehatan, memiliki kandungan gizi yang terjaga, sekaligus lebih menarik bagi pasar.
Dalam setiap tahapan pelaksanaan, tim pengabdi bersama mahasiswa tidak sekadar memberikan penyuluhan, tetapi mendampingi masyarakat secara langsung. Nelayan dikenalkan pada pemanfaatan bahan pengawet alami hasil kombinasi sektor pertanian dan perikanan, seperti gambir, kitosan, karagenan, dan kecombrang.
Berbagai bahan alami tersebut terbukti mampu memperpanjang daya simpan ikan tanpa bergantung sepenuhnya pada es, sekaligus menghasilkan produk yang lebih sehat dan memiliki cita rasa yang tetap terjaga.
Inovasi tidak berhenti pada proses pengawetan. Tim pengabdi juga melatih masyarakat menggunakan lemari pengasap modern, teknik pengemasan dengan vacuum sealer, hingga pembuatan label produk yang informatif dan menarik sehingga mampu meningkatkan daya saing produk di pasaran.



Produk olahan ikan dalam kemasan “Smoked Fish” dan “Salted Fish” diminati wisatawan manca negara dan sivitas Universitas Bengkulu.(foto:ist-selly).
Hasilnya mulai terlihat
Kelompok Nelayan Raja Pulau kini telah menghasilkan dua produk unggulan, yakni “Smoked Fish” dan “Salted Fish” dalam kemasan modern yang memiliki identitas produk serta informasi nilai gizi. Produk tersebut tidak hanya diminati wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pulau Enggano, tetapi juga mendapat sambutan positif dari sivitas akademika Universitas Bengkulu.
Bahkan, kedua produk tersebut kini turut dipromosikan oleh Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu dalam berbagai pameran UMKM, baik di tingkat daerah maupun nasional. Kehadiran produk olahan ini membuka peluang pasar yang jauh lebih luas dibanding sebelumnya ketika masyarakat hanya mengandalkan penjualan ikan segar.
“Kami sangat senang karena harga jual produk ikan sekarang jauh lebih tinggi. Kemasannya sudah memenuhi standar dan dilengkapi informasi gizi. Berkat kolaborasi dengan berbagai pihak, produk ini juga dipromosikan oleh Bank Indonesia dalam berbagai pameran di Bengkulu maupun di luar daerah. Yang terpenting, masyarakat kini memiliki alternatif pengelolaan hasil tangkapan sehingga tidak lagi bergantung pada ketersediaan es,” ujar Selly Ratna Sari.



Selly Ratna Sari saat menerima penghargaan sebagai Dosen dengan Pengabdian Masyarakat Berdampak Terbaik dalam Anugerah Rektor Unib 2026.(foto:hms1)
Bagi Selly, keberhasilan program ini bukan hanya diukur dari lahirnya produk baru, tetapi juga dari tumbuhnya kemandirian masyarakat dalam mengelola potensi lokal. Melalui pengabdian ini, ilmu yang selama ini berkembang di kampus dapat diterapkan secara nyata untuk menjawab kebutuhan masyarakat, sekaligus menjadi ruang belajar langsung bagi mahasiswa yang terlibat.
Dampak positif program tersebut pun mendapat apresiasi dari Universitas Bengkulu. Pada puncak Dies Natalis ke-44 Universitas Bengkulu tahun 2026, Selly Ratna Sari menerima penghargaan sebagai Dosen dengan Pengabdian Masyarakat Berdampak Terbaik dalam Anugerah Rektor Unib.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan bahwa tridarma perguruan tinggi tidak berhenti pada ruang laboratorium atau ruang kuliah, tetapi hadir memberikan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Kami berharap hasil pengabdian ini dapat terus memberikan manfaat bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat nelayan di Pulau Enggano secara berkelanjutan,” tutup Selly.
Kisah dari Desa Kaana membuktikan bahwa sebuah inovasi tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit. Kadang, perubahan besar justru dimulai dari keberanian melihat persoalan masyarakat, lalu menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Di tangan para dosen Universitas Bengkulu, ilmu pengetahuan tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu mengubah hasil tangkapan nelayan menjadi harapan baru bagi masa depan ekonomi masyarakat pesisir. [Purna Herawan | Humas].