Universitas Bengkulu (Unib) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan meraih penghargaan Medali Bronze (Perunggu) pada ajang Indonesia Halal Ecosystem Summit & UB Halal Metric Award 2026. Kegiatan yang digelar di Auditorium Algoritman Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya pada Selasa (5/5/2026) tersebut diikuti berbagai perguruan tinggi, lembaga pemerintah, dan sektor industri dari seluruh Indonesia yang memiliki komitmen dalam pengembangan ekosistem halal berbasis riset, kebijakan, dan infrastruktur.

Penghargaan yang diterima Unib berada pada kategori perguruan tinggi bidang Policy atau kebijakan. Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen Unib dalam mendukung penguatan industri halal nasional secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Wakil Rektor II Bidang Keuangan dan Umum Unib, Dr. Yulian Fauzi, S.Si, M.Si, menjelaskan bahwa kegiatan tahun ini mengusung tema “Orchestrating the Halal Ecosystem: Bridging Research, Infrastructure, and Policy.” Tema tersebut menekankan pentingnya sinergi antara riset, kebijakan, serta dukungan infrastruktur dalam membangun ekosistem halal yang kuat dan berdaya saing.
“Prestasi ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh sivitas akademika Universitas Bengkulu dalam membangun ekosistem halal yang tidak hanya kuat secara infrastruktur, tetapi juga berkelanjutan dari sisi riset dan kebijakan. Penghargaan ini sekaligus menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus meningkatkan kontribusi dalam pengembangan industri halal di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Dr. Yulian, penghargaan tersebut menjadi dorongan bagi Unib untuk terus memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak, baik pemerintah, industri, maupun kalangan akademisi, guna mempercepat terwujudnya ekosistem halal yang inklusif, berdampak, dan mampu bersaing di tingkat global.
“Dengan capaian ini, Unib semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu perguruan tinggi yang aktif berkontribusi dalam penguatan industri halal berbasis akademik di Indonesia, sekaligus mendukung visi Indonesia sebagai pusat industri halal dunia,” tambahnya.


Unib bersama perguruan tinggi lainnya saat menerima piagam penghargaan UB Halal Metric Award 2026.(ist)
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tim Humas Unib, pada penyelenggaraan tahun 2026, UB Halal Metric Award memberikan total 261 penghargaan kepada institusi dari sektor perguruan tinggi, pemerintahan, dan industri yang dinilai berhasil membangun ekosistem halal secara komprehensif dan berkelanjutan.
Penilaian dilakukan berdasarkan lima indikator utama, yakni kebijakan, edukasi, inovasi, infrastruktur, dan ekosistem halal. Melalui indikator tersebut, institusi dinilai tidak hanya dari sisi produk atau layanan halal, tetapi juga dari kesiapan sistem dan tata kelola yang mendukung implementasi prinsip halal secara menyeluruh.
Ketua Pelaksana kegiatan, Jhauharotul Muchlisyiyah, S.TP, M.P, Ph.D, mengungkapkan bahwa jumlah institusi yang mengikuti penilaian tahun ini meningkat signifikan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
“Pada penyelenggaraan pertama tahun 2024 dan kedua tahun 2025, jumlah institusi yang kami nilai berkisar sekitar 30 institusi per sektor. Tahun ini meningkat menjadi 100 institusi per sektor, sehingga total mencapai sekitar 300 institusi dari seluruh Indonesia. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kesadaran institusi terhadap pentingnya membangun ekosistem halal yang terukur dan terstandarisasi semakin tinggi,” jelasnya.



Rektor Universitas Brawijaya bersama Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan saat membuka Indonesia Halal Ecosystem Summit & UB Halal Metric Award 2026.(foto:ist-net)
Ia menegaskan bahwa UB Halal Metric memiliki pendekatan berbeda dibandingkan sertifikasi halal pada umumnya. Jika sertifikasi halal berfokus pada status halal suatu produk, UB Halal Metric justru menilai kesiapan dan komitmen institusi secara menyeluruh dalam membangun ekosistem halal.
“Kami melihat bagaimana kebijakan dirumuskan, bagaimana inovasi didorong, bagaimana edukasi halal diintegrasikan ke dalam sistem, dan bagaimana infrastruktur fisik maupun nonfisik disiapkan untuk mendukung seluruh rantai nilai halal,” terangnya.
Menurutnya, pendekatan berbasis ekosistem tersebut memiliki dampak langsung terhadap kenyamanan dan keamanan masyarakat. “Ketika suatu institusi telah membangun sistem yang terjamin sesuai prinsip halal dan thayyib secara menyeluruh, maka masyarakat tidak perlu lagi mempertanyakan satu per satu produk atau layanan yang diterima. Jaminan itu sudah melekat pada sistemnya,” imbuhnya.
Untuk mekanisme penilaian, UB menerapkan dua pendekatan, yakni self-reporting oleh institusi peserta berdasarkan indikator yang telah ditetapkan serta penilaian langsung oleh tim penilai menggunakan rubrik akademis yang terukur.
Selain penganugerahan penghargaan, kegiatan juga dirangkai dengan talkshow yang menghadirkan sejumlah narasumber nasional, di antaranya Dirjen Produk Halal Kementerian Agama RI yang membahas strategi pengembangan produk halal nasional, Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan terkait akselerasi sertifikasi halal dan penguatan tata kelola jaminan produk halal, serta Direktur PT Ajinomoto Indonesia yang memaparkan praktik terbaik dan tantangan industri dalam membangun ekosistem halal yang inovatif dan berkelanjutan. [Purna Herawan | Humas].