Di tengah gegap gempita prosesi wisuda Program Pascasarjana Periode III Tahun 2025/2026 Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 22–23 April 2026, satu nama mencuri perhatian dan membawa kebanggaan tersendiri bagi Universitas Bengkulu (Unib). Dialah dr. Istiqomah Katin, Sp.A, alumni Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unib yang dinobatkan sebagai lulusan termuda pada wisuda tersebut.


dr. Istiqomah Katin, Sp.A. (foto:ist-dok)
Di antara 1.638 lulusan pascasarjana yang diwisuda—terdiri dari program magister, spesialis, subspesialis, hingga doktor—Istiqomah tampil istimewa. Pada usia 28 tahun 6 bulan, ia melampaui rata-rata usia lulusan spesialis yang berada di angka 34 tahun 5 bulan. Sebuah capaian yang bukan hanya mencerminkan kecerdasan akademik, tetapi juga konsistensi dan ketekunan dalam menapaki setiap jenjang pendidikan.
Kabar membanggakan ini pun cepat sampai ke kampus biru di Bengkulu. Sivitas akademika FKIK Unib menyambutnya dengan penuh apresiasi. Bagi mereka, sosok Istiqomah bukan sekadar alumni berprestasi, melainkan juga bagian dari keluarga besar kampus yang kini kembali sebagai dosen sekaligus dokter spesialis anak yang akan berkontribusi nyata.
“Keberhasilan dr. Isti tentu menjadi kebanggaan bagi kami semua. Ini bukan hanya capaian personal, tetapi juga inspirasi bagi mahasiswa dan alumni FKIK Unib lainnya,” ujar Dekan FKIK Unib melalui Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum, Dr. dr. Enny Nugraheni Sulistyorini, M.Biomed.
Lebih dari itu, kehadiran dr. Istiqomah memiliki arti strategis bagi pengembangan institusi. Ia diproyeksikan menjadi salah satu tenaga medis kunci dalam mendukung operasional Rumah Sakit Pendidikan Unib yang direncanakan mulai beroperasi pada 2027. Dengan kompetensi sebagai dokter spesialis anak, kontribusinya diharapkan mampu memperkuat layanan kesehatan sekaligus menunjang pendidikan klinis mahasiswa kedokteran.


dr. Istiqomah Katin, Sp.A. (foto:ist-dok)
Perjalanan akademiknya sendiri bukan tanpa cerita. Sejak usia muda, Istiqomah telah menunjukkan ritme belajar yang konsisten. Ia menempuh program akselerasi saat SMP dan SMA, kemudian menyelesaikan pendidikan dokter dan lulus pada tahun 2019. Setelah sempat mengabdi sebagai dokter umum dan dosen di FKIK Unib, ia melanjutkan pendidikan spesialis Ilmu Kesehatan Anak di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM.
Selama masa studi, ia mengambil program double degree dengan fokus penelitian di bidang neonatologi, khususnya hiperbilirubinemia pada neonatus. Pilihan bidang ini menunjukkan kepeduliannya terhadap kesehatan bayi baru lahir, salah satu fase paling krusial dalam kehidupan manusia.
Menariknya, predikat sebagai lulusan termuda tidak pernah menjadi ambisi utama. Bagi Istiqomah, yang terpenting adalah menjaga konsistensi dalam setiap proses yang dijalani.
“Saya tidak pernah menargetkan menjadi yang termuda. Saya hanya berusaha menjalani setiap tahapan dengan sebaik mungkin. Ketika akhirnya mendapat predikat tersebut, tentu sangat bersyukur,” tuturnya sebagaimana dilansir website UGM.

dr. Istiqomah Katin, Sp.A. (foto:ist-dok)
Di balik pencapaian itu, tersimpan dinamika perjuangan yang tidak ringan. Tuntutan akademik yang tinggi, tanggung jawab klinis yang intensif, hingga adaptasi budaya dari Bengkulu ke Yogyakarta menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun, dukungan keluarga, kolega, dan para pembimbing menjadi fondasi kuat yang membantunya bertahan dan berkembang.
Kini, langkahnya kembali mengarah ke almamater. Direncanakan mulai Mei 2026, dr. Istiqomah akan kembali aktif mengajar di FKIK Unib, sembari mengabdikan ilmunya sebagai dokter spesialis anak.
Di ujung kisahnya, ia menyampaikan pesan sederhana namun bermakna: menikmati setiap proses. Baginya, pendidikan bukan sekadar tentang hasil akhir, melainkan perjalanan panjang yang membentuk karakter dan kepekaan.
“Semoga ilmu yang kita peroleh bisa benar-benar bermanfaat dan memberikan dampak positif, di mana pun kita berada,” ujarnya.
Kisah dr. Istiqomah Katin menjadi bukti bahwa dedikasi dan konsistensi dapat membuka jalan menuju pencapaian luar biasa, sekaligus menjadi energi inspiratif bagi generasi muda Unib untuk terus melangkah, belajar, dan memberi arti. [Website UGM | Editor: Purna Herawan].