Universitas Bengkulu (Unib) menggelar peringatan Nuzulul Qur’an 1447 H/2026 M di Masjid Baitul Hikmah pada Minggu malam (8/3/2026). Kegiatan ini menjadi momentum bagi sivitas akademika untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, sekaligus meneguhkan komitmen menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi dan pedoman dalam membangun kehidupan yang berilmu, berakhlak, dan berperadaban.



Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata saat menyampaikan sambutan.(foto:hms1)
Kegiatan religius tersebut dihadiri oleh Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si, Ketua dan Sekretaris Senat Universitas Bengkulu, para Wakil Rektor, para Dekan dan Wakil Dekan, Kepala Biro, dosen, mahasiswa dari UKM Kerohanian, serta Takmir Masjid Baitul Hikmah Universitas Bengkulu.
Rangkaian acara diawali dengan Shalat Isya dan Tarawih berjamaah, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan Rektor, serta ceramah agama yang disampaikan oleh akademisi FKIP Unib, Ustadz Prof. Dr. Johanes Sapri, M.Pd. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan sesi foto bersama.
Dalam sambutannya, Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata menyampaikan apresiasi kepada panitia dan Takmir Masjid Baitul Hikmah yang telah menginisiasi kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an memiliki makna penting dalam memperkuat keimanan dan ketakwaan, serta menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.



Jamaah Sholat Tarawih Masjid Baitul Hikmah Unib antusias mengikuti acara Nuzulul Qur’an.(foto:hms1)
Rektor juga mengingatkan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an tidak sekadar mengenang peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah SAW di Gua Hira, tetapi juga menjadi momentum refleksi terhadap pesan-pesan agung yang terkandung dalam Al-Qur’an.
Sebagai bagian dari sivitas akademika, menurut Rektor, pesan Al-Qur’an tentang pentingnya ilmu pengetahuan sangat relevan dengan kehidupan di lingkungan perguruan tinggi. Kampus merupakan ruang lahirnya ilmu, berkembangnya pemikiran, serta tempat membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai moral dan spiritual.
“Oleh karena itu, di malam Nuzulul Qur’an ini hendaknya kita semakin menguatkan komitmen untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi dalam menuntut ilmu, dalam penelitian, serta dalam membangun karakter generasi masa depan,” ujarnya.



Ustadz Prof. Yohanes Safri saat menyampaikan ceramah agama dalam peringatan Nuzulul Qur’an.(foto:hms1)
Sementara itu, dalam tausiyahnya, Prof. Johanes Sapri mengajak jamaah menjadikan peristiwa Nuzulul Qur’an sebagai pengingat akan kebesaran Allah SWT dan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Ia menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an merupakan titik balik peradaban manusia yang membawa petunjuk, ilmu, serta hukum bagi kehidupan. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang benar dan yang batil.
Prof. Johanes juga memaparkan dua fase utama turunnya Al-Qur’an. Pertama, diturunkan secara sekaligus dari Lauh Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Qadr ayat 1. Kedua, diturunkan secara bertahap melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun.


Foto bersama jamaah Masjid Baitul Hikmah Unib usai acara peringatan Nuzulul Qur’an.(foto:hms1)
“Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur agar umat Islam lebih mudah memahami, menghafal, serta mengamalkannya. Setiap ayat yang turun memiliki hikmah yang dapat menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT,” jelasnya.
Di akhir tausiyahnya, Prof. Johanes mengajak seluruh sivitas akademika Universitas Bengkulu untuk terus membaca, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. “Membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an merupakan wujud rasa syukur kita atas berbagai nikmat yang Allah SWT berikan,” pungkasnya. [Purna Herawan | Humas].