UNIVERSITAS BENGKULU

Ilmu pengetahuan bukan sekadar kumpulan teori di ruang kelas. Di tangan para peneliti yang tekun, ilmu menjelma menjadi solusi nyata bagi kehidupan. Prinsip inilah yang menjiwai perjalanan akademik Prof. Dr. Ir. Rustikawati, M.Si, Guru Besar Bidang Pertanian Lahan Kering Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu (Unib), yang selama lebih dari dua dekade menekuni riset pengembangan tanaman adaptif di lahan kering dan pesisir.

Atas dedikasi panjangnya dalam penelitian dan pengabdian, Prof. Rustikawati dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Rapat Senat Paripurna Terbuka Universitas Bengkulu di Gedung Serba Guna (GSG) Unib, Selasa (10/2/2026).

Prof. Rustikawati dan kelima akademisi Unib lainnya saat dikukuhkan sebagai Guru Besar.(foto:hms1-kris)

Ia dikukuhkan bersama lima profesor lainnya: Prof. Dr. Ir. Irnad, M.Sc (Sosial Ekonomi Pertanian, FP); Prof. Dr. Wisma Yunita, S.Pd, M.Pd (Pengajaran Bahasa Inggris, FKIP); Prof. Dr. Jose Rizal, S.Si, M.Si (Matematika Terapan, FMIPA); Prof. Dr. Drs. Sugeng Suharto, MM, M.Si (Kebijakan Publik, FISIP); serta Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P, M.Si (Sosial Ekonomi Pertanian, FP).

Dalam tradisi akademik pengukuhan, setiap profesor menyampaikan orasi ilmiah sebagai refleksi kepakaran dan kontribusi risetnya. Prof. Rustikawati memilih tema yang sangat relevan dengan karakteristik wilayah Bengkulu yang didominasi lahan kering dan sebagian wilayah pesisir, yakni “Pengembangan Tanaman Adaptif Lahan Kering dengan Bioteknologi.”

Di hadapan senat dan tamu undangan, ia memaparkan roadmap penelitian yang telah dirintis sejak tahun 2000 dan dirancang berkelanjutan hingga 2030. Fokusnya jelas, yaitu menghadirkan varietas tanaman yang mampu bertahan dan tetap produktif di tengah keterbatasan kondisi tanah masam, kekeringan, hingga salinitas pesisir.

Menurutnya, lahan kering merupakan sumber daya strategis yang belum sepenuhnya dioptimalkan. Dari total 191,1 juta hektar daratan Indonesia, hampir separuhnya merupakan lahan kering. Namun, potensi besar tersebut dibayangi berbagai kendala, seperti tingkat kemasaman tanah yang tinggi, rendahnya kandungan bahan organik, keterbatasan air, serta salinitas di wilayah tertentu.

Prof. Rustikawati saat menyampaikan Orasi Ilmiah di hadapan Rapat Senat Unib dan undangan.(foto:hms1)

“Pendekatan input tinggi seperti pemupukan kimia dan irigasi intensif sering kali tidak efisien bagi petani kecil. Selain meningkatkan biaya produksi, juga berpotensi menurunkan kualitas lingkungan dalam jangka panjang,” jelasnya.

Karena itu, solusi yang ia tawarkan adalah pendekatan berbasis genetik dan bioteknologi untuk menghadirkan varietas unggul yang secara alami toleran terhadap cekaman lingkungan. Dengan cara ini, petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada input eksternal yang mahal dan berisiko terhadap keberlanjutan lahan.

Hasilnya bukan sekadar konsep di atas kertas. Bersama tim peneliti, Prof. Rustikawati berhasil melahirkan sejumlah varietas unggul yang telah terdaftar resmi, antara lain jagung UNIB CT9 (No. 418/PVHP/2016), cabai UNIB CHR17 (No. 344/PVHP/2015), cabai Maxima (No. 424/PVHP/2016), dan cabai UNIB CHR23 (No. 425/PVHP/2016) yang adaptif pada lahan kering masam.

Tak berhenti di situ, risetnya juga menghasilkan varietas untuk wilayah pesisir salin, yakni jagung UNIB CT30 (No. 529/PVHP/2017) dan cabai rawit UNIB H3 yang menunjukkan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan varietas komersial yang beredar saat ini.

Prof. Rustikawati dan suaminya Prof. Catur Herison.(foto:ist-kris)

Untuk mempercepat proses seleksi dan meningkatkan ketepatan pemuliaan, penelitian ini didukung pemanfaatan penanda DNA. Penanda RAPD digunakan antara lain untuk mendeteksi mutan jagung hasil radiasi sinar gamma, keterpautan karakter toleransi CMV pada cabai, identifikasi tetua recurrent pada backcross, hingga seleksi individu cabai toleran CMV generasi BC₃. Selain itu, penanda SSR dimanfaatkan untuk seleksi cabai toleran aluminium serta fingerprinting populasi cabai rawit.

Pendekatan bioteknologi ini mempertegas bahwa pertanian modern tidak lagi hanya bertumpu pada praktik budidaya, tetapi juga pada presisi genetika yang memungkinkan lahirnya varietas tangguh dan produktif.

Sebagai bagian dari diseminasi hasil riset dan alih teknologi kepada masyarakat, Prof. Rustikawati juga menerbitkan buku berjudul “Cabai Merah: Teknologi Produksi di Lahan Kering Masam.” Buku ini menjadi jembatan antara laboratorium dan lahan, antara riset dan praktik petani.

Perjalanan akademik Prof. Rustikawati juga tak lepas dari lingkungan keluarga ilmuwan. Ia merupakan istri dari Prof. Catur Herison, Guru Besar Unib bidang Pemuliaan Tanaman. Namun, di balik itu semua, yang menonjol adalah konsistensi dan ketekunannya membangun fondasi keilmuan pertanian lahan kering di Bengkulu.

Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata menyampaikan sambutan dan apresiasi kepada para Guru Besar.(foto:hms1)

Pengukuhan enam Guru Besar ini menambah jumlah profesor Unib dari 83 menjadi 89 orang. Lebih dari sekadar angka, capaian tersebut mencerminkan bertambahnya kekuatan intelektual dan tanggung jawab moral universitas dalam mendukung pembangunan daerah dan nasional.

“Atas nama pimpinan Universitas Bengkulu, saya menyampaikan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para profesor yang hari ini dikukuhkan. Gelar profesor bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab akademik yang lebih besar,” ujar Rektor Unib, Prof. Indra Cahyadinata.

Ia menegaskan, profesor tidak hanya dituntut produktif dalam publikasi ilmiah, tetapi juga menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat. “Kita membutuhkan profesor yang manfaat ilmunya benar-benar dirasakan oleh petani, nelayan, guru, pelaku usaha, pemerintah daerah, dan masyarakat luas,” tegasnya.

Apa yang dilakukan Prof. Rustikawati menjadi bukti bahwa bioteknologi bukan sekadar istilah ilmiah, melainkan harapan bagi petani di lahan kering. Dari laboratorium Unib, benih-benih unggul itu tumbuh dan membawa harapan baru bagi ketahanan pangan dan keberlanjutan pertanian Indonesia. [Purna Herawan | Humas].