Menjawab kebutuhan mendesak akan tenaga medis spesialis di Provinsi Bengkulu, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu (FKIK Unib) resmi menginisiasi pembukaan Program Pendidikan Dokter Spesialis-1 (PPDS-1) Obstetri dan Ginekologi (Obsgyn). Program ini direncanakan mulai menerima mahasiswa baru pada semester ganjil 2026/2027.



Rektor dan Asisten I Pemprov Bengkulu menyatakan komitmen dan mendukung penuh PPDS Obsgyn Unib.(hms1)
Sebagai bagian dari tahapan pendirian program studi, Visitasi Evaluasi Lapangan oleh Tim Asesor telah dilaksanakan pada Jumat (9/1/2026). Visitasi tersebut menjadi penilaian krusial terhadap kesiapan akademik, sumber daya manusia, serta sarana dan prasarana pendukung penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis di FKIK Unib.
Tim Asesor terdiri dari Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SPPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP dan Prof. Dr. dr. Wiryawan Permadi, Sp.OG(K). Rapat evaluasi administrasi berlangsung di Gedung FKIK Unib dan dihadiri langsung oleh Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si, didampingi Wakil Rektor I Bidang Akademik Prof. Dr. Kamaludin, S.E, MM, Wakil Rektor II Bidang Keuangan dan Umum Dr. Yulian Fauzi, S.Si, M.Si, serta Ketua LPPM dan LPMPP Unib.



Foto bersama di acara Visitasi Evaluasi Lapangan penyelenggaraan PPDS Obsgyn FKIK Unib.(foto:hms1)
Turut hadir Dekan FKIK Unib dr. Rosaria Indah, M.Sc, Ph.D bersama para Wakil Dekan, yakni Dr. dr. Dessy Triana, S.Ked, M.Biomed, Dr. dr. Enny Nugraheni Sulistyorini, M.Biomed, dan Dr. dr. Maria Eka Patri Yulianti, M.Biomed, serta jajaran tenaga kependidikan FKIK Unib.
Komitmen kuat terhadap pendirian PPDS Obsgyn FKIK Unib juga ditunjukkan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu. Gubernur Bengkulu H. Helmi Hasan diwakili Asisten I Setda Provinsi Bengkulu Drs. Khairil Anwar, M.Si, hadir bersama Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Dr. drg. H. Edriwan Mansyur, MM, Direktur RSUD dr. M. Yunus Bengkulu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, Direktur RS Harapan dan Doa, Direktur RS Gading Medika, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Dalam sambutannya, Rektor Unib Prof. Indra Cahyadinata menegaskan bahwa pembukaan PPDS Obsgyn merupakan langkah strategis Unib dalam menjawab krisis tenaga medis spesialis, khususnya di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Provinsi Bengkulu.
“Seluruh pimpinan Unib memberikan dukungan penuh. Kami berkomitmen memenuhi seluruh standar kelayakan yang dipersyaratkan, sehingga pada semester ganjil 2026 PPDS Obsgyn FKIK Unib sudah dapat menerima mahasiswa baru,” ujarnya.



Dekan FKIK Unib dan Calon Ketua Prodi PPDS Obsgyn ketika melakukan presentasi di hadapan asesor.(foto:hms1)
Rektor juga menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan dengan Pemerintah Provinsi Bengkulu dan rumah sakit mitra, sebagaimana dukungan historis yang turut mengiringi berdirinya FKIK Unib sejak awal.
“Ke depan, sinergi dengan RSUD dr. M. Yunus dan rumah sakit mitra lainnya menjadi kunci. Kerja sama ini diharapkan mampu memperkuat layanan kesehatan sekaligus mencetak dokter spesialis yang berkontribusi nyata bagi pembangunan kesehatan Bengkulu,” tambahnya.
Sementara itu, Asisten I Setda Provinsi Bengkulu Drs. Khairil Anwar menegaskan bahwa dukungan pemerintah daerah terhadap penyelenggaraan PPDS Obsgyn FKIK Unib merupakan bagian dari implementasi kebijakan Bantu Rakyat yang dicanangkan Gubernur Bengkulu, khususnya di sektor kesehatan.
“Kami sangat mendukung program ini. Kehadiran jajaran OPD dan para direktur rumah sakit hari ini adalah bukti komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat Bengkulu,” ujarnya.



Tim Asesor melakukan peninjauan sarana dan prasarana PPDS Obsgyn di RSMY Bengkulu.(foto:hms1)
Relevan dengan SDGs dan Program Nasional
Dalam pemaparannya, Dekan FKIK Unib dr. Rosaria Indah bersama Calon Ketua Program Studi PPDS Obsgyn dr. Taufik Hidayat, Sp.OG, Subsp. Onk, menjelaskan bahwa pendirian PPDS Obsgyn merupakan langkah strategis dan mendesak untuk menjawab tantangan kesehatan reproduksi, termasuk keterbatasan jumlah dokter spesialis, ketimpangan distribusi layanan, serta tingginya angka kematian ibu dan bayi.
“Program ini menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan reproduksi, khususnya di daerah terpencil. Dampaknya diharapkan signifikan terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi, sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan,” jelas dr. Rosaria.



Foto bersama Tim Asesor saat mengunjungi RSMY Bengkulu.(foto:hms1)
Taufik menambahkan, PPDS Obsgyn FKIK Unib selaras dengan SDGs Tujuan 3, yakni menjamin kehidupan sehat dan kesejahteraan bagi semua usia, serta sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting dan Perpres Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025–2029.
“Secara nasional, jumlah dokter spesialis obstetri dan ginekologi masih jauh dari ideal. Di Provinsi Bengkulu sendiri, pada April 2024 hanya terdapat 30 orang Obsgyn. Dengan akreditasi FKIK Unib yang sudah Baik Sekali dan pengakuan internasional ACQUIN, pendirian PPDS Obsgyn ini menjadi sangat relevan dan strategis,” paparnya.



Rapat pleno hasil Visitasi Evaluasi Lapangan pendirian PPDS Obsgyn FKIK Unib.(foto:hms1)
FKIK Unib Dinyatakan Layak
Berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap aspek administrasi, SDM, fasilitas pembelajaran, serta sarana dan prasarana di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu, Tim Asesor dalam rapat pleno menyatakan FKIK Unib layak menyelenggarakan PPDS Obsgyn.
“Dukungan pimpinan universitas, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan sangat kuat. Ketersediaan SDM dan fasilitas di RSMY juga kami nilai memadai. Karena itu, FKIK Unib dinyatakan layak dan siap menerima mahasiswa pada semester depan,” ujar Prof. Ari Fahrial Syam.



Penandatanganan Berita Acara Hasil Visitasi Evaluasi Lapangan pendirian PPDS Obsgyn FKIK Unib.(foto:hms1)
Ia bahkan mendorong FKIK Unib untuk menginisiasi pembukaan program dokter spesialis lainnya di masa mendatang, seperti spesialis penyakit dalam, guna semakin memperkuat layanan kesehatan di Bengkulu.
Kegiatan visitasi ditutup dengan penandatanganan Berita Acara Hasil Evaluasi Lapangan serta Perjanjian Kerja Sama (PKS) pendirian PPDS Obsgyn antara Tim Asesor dan Rektor Unib. Momentum ini menandai langkah awal penyelenggaraan program dokter spesialis pertama di Provinsi Bengkulu, sekaligus tonggak penting penguatan peran Unib dalam pembangunan kesehatan daerah. [Purna Herawan | Humas].