Universitas Bengkulu (Unib) kembali menorehkan capaian membanggakan di tingkat nasional dan global. Berdasarkan pengumuman dan penganugerahan UI GreenMetric World University Rankings 2025 yang digelar di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, pada 16 Desember 2025, Unib berhasil menempati peringkat 56 dari 196 peserta nasional dan 574 dari 1.744 peserta dunia.

Capaian ini menunjukkan tren positif dengan lonjakan 14 peringkat dibandingkan tahun 2024, ketika Unib berada di posisi 70 nasional. Meski belum sepenuhnya mengulang prestasi peringkat 31 dan 41 yang pernah diraih pada 2022 dan 2021, hasil tahun 2025 menjadi momentum penting sekaligus pemantik semangat bagi Unib untuk terus memperkuat komitmen sebagai kampus hijau yang berkelanjutan.
UI GreenMetric sendiri merupakan pemeringkatan global yang mengukur komitmen dan kinerja perguruan tinggi dalam pengelolaan lingkungan dan keberlanjutan kampus. Penilaian dilakukan melalui sejumlah indikator utama, antara lain tata kelola lingkungan kampus, pengelolaan energi dan perubahan iklim, pengelolaan limbah, konservasi air, sistem transportasi berkelanjutan, serta integrasi pendidikan dan riset berbasis keberlanjutan.
Rektor Universitas Bengkulu, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, SP, M.Si, menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, peningkatan peringkat UI GreenMetric merupakan hasil kerja kolektif seluruh sivitas akademika Unib.



Suasana gedung rektorat Unib dan Danau Kampus yang hijau dan asri.(foto:hms1)
“Peringkat ini mencerminkan komitmen bersama sivitas akademika Unib dalam membangun budaya kampus yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. UI GreenMetric juga menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs),” ujar Rektor.
Ia menegaskan, capaian ini akan menjadi pijakan untuk semakin menguatkan integrasi prinsip keberlanjutan dalam tridarma perguruan tinggi. Ke depan, Unib akan terus mendorong riset, inovasi, serta penguatan sistem informasi yang mendukung pengelolaan kampus hijau, efisiensi energi, dan kebijakan berbasis data guna mendukung pembangunan berkelanjutan.
Pencanangan “Unib Peduli Lingkungan”
Sebagai langkah konkret, pada akhir 2025 Rektor Unib secara resmi mencanangkan program “Unib Peduli Lingkungan” yang akan mulai diterapkan secara efektif pada tahun 2026. Program ini tidak bersifat simbolis, melainkan dirancang sebagai gerakan institusional yang terimplementasi secara nyata melalui enam pilar utama.

Enam pilar tersebut meliputi: Zero Waste, yakni pengelolaan sumber daya untuk meminimalkan timbulan sampah; Water Sustainability, yang menekankan pengelolaan sumber daya air secara holistik dan efisien; Smart Energy, untuk menciptakan solusi energi adaptif dan ramah lingkungan; Sustainable Education, yang mengintegrasikan isu lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam pendidikan, sekaligus mendorong partisipasi aktif serta pemikiran kritis sivitas akademika terhadap tantangan global seperti perubahan iklim dan kemiskinan.
Selanjutnya, pilar Green Campus, yakni konsep pengelolaan perguruan tinggi berbasis prinsip keberlanjutan dalam seluruh aspek operasional guna menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan ramah lingkungan; serta pilar Regulation, berupa penetapan perangkat aturan untuk mengarahkan perilaku dan sistem agar terwujud kampus yang berkelanjutan.
Perkuat Jejaring Kerja Sama Nasional dan Internasional
Komitmen Unib dalam pengelolaan dan perlindungan lingkungan juga diperkuat melalui berbagai kerja sama strategis, baik di tingkat nasional maupun internasional. Di tingkat nasional, Unib menjadi salah satu perguruan tinggi yang menjalin kerja sama dengan Badan Kajian Pusat Studi Lingkungan Hidup (BKPSL) Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.



Rektor Unib menandatangani kerja sama dengan BKPSL Kementerian LH dan berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bengkulu melakukan penghijauan dan pelestarian lingkungan.(foto:ist-gg)
Nota kesepahaman (MoU) kerja sama tersebut ditandatangani oleh Rektor Unib Prof. Dr. Indra Cahyadinata dalam forum nasional yang berlangsung di Hotel Gran Melia, Jakarta, pada Kamis, 30 Oktober 2025, dan disaksikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup RI Hanif Faisol Nurofiq serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto.
“Melalui kerja sama ini diharapkan terbangun sinergi yang lebih kuat antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam mendukung perlindungan serta pengelolaan lingkungan hidup yang berbasis riset, kajian ilmiah, dan inovasi,” ungkap Rektor kepada Tim Humas Unib.
Sementara itu, pada skala internasional, Universitas Bengkulu melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) juga dipercaya menjalin kerja sama dengan Oxford Policy Management Limited (OPML), konsultan internasional berbasis di Inggris, dalam pelaksanaan program Low Carbon Development Initiative (LCDI). Program ini merupakan inisiatif Bappenas RI dengan dukungan Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO) Inggris.
Kolaborasi tersebut tidak hanya memperkuat jejaring riset internasional Unib, tetapi juga meneguhkan peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan Bengkulu yang hijau, tangguh, dan berkelanjutan. Output program ini akan bermuara pada penyusunan Rancangan Peraturan Gubernur Bengkulu tentang Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim, sehingga terintegrasi secara nyata dalam dokumen pembangunan daerah. [Purna Herawan | Humas].