UNIVERSITAS BENGKULU

Viralnya pemberitaan mengenai penemuan Rafflesia hasseltii di Sijunjung oleh peneliti dari the University of Oxford, Dr. Chris Thorogood, pekan lalu tidak hanya menyita perhatian publik nasional dan internasional. Di balik ramainya perbincangan tersebut, terdapat fakta penting yang jarang muncul di media, yaitu semakin eratnya kerja sama riset antara Universitas Bengkulu (Unib) dan the University of Oxford.

Dr. Chris Thorogood usai bertemu dan berdiskusi dengan Wakil Rektor IV Unib, Ketua LPPM Unib, dan dosen mitra lainnya dilanjutkan makan malam di salah satu rumah makan di Kota Bengkulu.(ist-yansen)

Hal ini diungkapkan oleh Dr. Yansen, Dosen Peneliti Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Unib, yang selama ini bersama Prof. Agus Susatya menjadi mitra riset Dr. Chris Thorogood di Universitas Bengkulu. Untuk Prof. Agus Susatya, ia juga merupakan anggota tim internasional yang tengah mempersiapkan penulisan buku “Rafflesia of the World”.

“Sebenarnya yang viral itu bukan hanya soal perjumpaan dengan Rafflesia hasseltii, tetapi juga karena adanya kelalaian admin media sosial University of Oxford yang hanya menuliskan nama Dr. Chris Thorogood tanpa menyebutkan seluruh tim. Karena sudah terlanjur viral, kita biarkan dulu, dan kini pihak Oxford sudah melakukan koreksi,” ujar Dr. Yansen kepada Tim Humas Unib, Jumat (29/11/2025).

Dalam unggahan terbaru tanggal 27 November 2025 di kanal resmi mereka, University of Oxford menegaskan bahwa riset tersebut merupakan kolaborasi bersama Universitas Bengkulu dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia. Oxford juga menyampaikan apresiasi terhadap kerja sama yang berjalan baik selama ini.

Selain itu, informasi terkait inisiatif pembentukan International Community for the Conservation & Research of Rafflesia (ICCRR) turut diumumkan sebagai bagian dari komitmen global terhadap konservasi Rafflesia.

Informasi tersebut disiarkan dalam https://www.facebook.com/share/r/19gmQH8JV9/, https://www.instagram.com/reel/DRkBdaLgTaZ/?igsh=N3NyMnltbTAyMm9i, dan laman https://ccrr.obga.ox.ac.uk/people.

Dr. Chris Thorogood bersama Prof. Agus Susatya dan Dr. Yansen ketika beraudiensi dengan Dekan dan Wakil Dekan Fakultas Pertanian Unib.(foto:ist-yansen)

Kolaborasi Unib – Oxford Berlanjut Sejak 2022

Lebih jauh, Dr. Yansen menjelaskan bahwa hubungan kerja sama antara Unib dan the University of Oxford Botanic Garden and Arboretum telah dimulai sejak 2022 dan diperkuat melalui penandatanganan MoU pada 2023.

“MoU tersebut diarahkan untuk memperkuat kerja sama riset, khususnya di bidang biodiversitas dan konservasi, serta membuka peluang pertukaran dosen, program magang, publikasi bersama, hingga pengembangan aktivitas akademik lainnya,” jelasnya.

Sejumlah implementasi kerja sama pun telah dijalankan. Pada 2022 dan awal 2024, Dr. Chris Thorogood yang juga Associate Professor of Biology sekaligus Deputy Director Botanic Gardens, kembali mengunjungi Unib untuk memberikan kuliah tamu, melakukan observasi lapangan, serta mendiskusikan rencana riset lanjutan.

Rencana joint research antara Unib, Oxford, dan BRIN terus diperkuat dengan Prof. Dr. Agus Susatya sebagai mitra utama di Unib.

Dr. Chris Thorogood bersama Prof. Agus Susatya dan Dr. Yansen ketika berdiskusi dengan pimpinan Fakultas Pertanian tentang kolaborasi riset dan kerja sama yang lebih besar.(foto:ist-yansen)

Visiting Professor dan Pertemuan Strategis

Pada akhir 2024, kolaborasi ini menghasilkan program Visiting Professor dari Unib ke University of Oxford, dengan Dr. Yansen sebagai peserta. Selama berada di Oxford, ia memberikan kuliah tamu di Department of Biology, terlibat dalam kegiatan practical class, serta mengadakan pertemuan strategis untuk menyusun arah kolaborasi jangka panjang.

Dr. Yansen juga mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai aktivitas di Botanic Garden and Arboretum, mulai dari pengelolaan kebun raya, pemeliharaan koleksi tanaman langka, hingga pertemuan dengan para donatur yang mendukung pengembangan botanic garden tersebut.

Dr. Chris Thorogood bersama Prof. Agus Susatya dan Dr. Yansen ketika berdiskusi dengan Ketua LPPM Unib dan Dosen Peneliti Unib lainnya tentang rencana kolaborasi riset.(foto:ist-yansen)

Rangkaian Aktivitas Kolaboratif di Bengkulu Tahun 2025

Sebagai tindak lanjut, pada 15–21 November 2025, Dr. Chris Thorogood kembali mengunjungi Universitas Bengkulu. Didampingi Prof. Dr. Agus Susatya dan Dr. Yansen, ia melaksanakan beberapa agenda penting, seperti Pertemuan untuk melihat progres riset phylogeny Rafflesia, yang merupakan kolaborasi BRIN–Unib–Oxford dengan Dr. Joko Witono (BRIN) sebagai peneliti utama.

Kemudian melakukan diskusi penyusunan buku Rafflesia of the World yang dipimpin Prof. Dr. Agus Susatya, Pembahasan peluang keterlibatan mahasiswa dari Unib dan Oxford dalam riset dan konservasi Rafflesia, Pertemuan dengan Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Unib, Prof. Azhar Muda Lubis, serta pimpinan Fakultas Pertanian Unib, hingga Collaborative Meeting yang digelar LPPM Unib untuk memperluas kerja sama Oxford dengan berbagai fakultas dan peneliti Unib.

Foto Rafflesia hasseltii yang dikunjungi di habitatnya di Sijunjung Sumatera Barat.(foto: Chris Thorogood dan Septian Andriki).

Di sela rangkaian kegiatan, Dr. Chris Thorogood bersama Dr. Joko Witono dan aktivis konservasi Rafflesia, Septian Andriki, juga melakukan ekspedisi lapangan untuk melihat bunga Rafflesia yang sedang mekar, termasuk Rafflesia hasseltii di Sijunjung, yang kemudian diunggah di media sosial Oxford dan menjadi viral.

“Itulah unggahan yang kemudian ramai dibicarakan publik. Namun sekarang informasi tersebut telah diperbaiki sehingga seluruh tim kolaborasi disebutkan dengan lengkap,” tutup Dr. Yansen. [Purna Herawan | Humas].