.
Home » Berita Umum » Jurusan Kehutanan Gelar Lokakarya Penyelamatan Pulau Tikus
Jurusan Kehutanan Gelar Lokakarya Penyelamatan Pulau Tikus

Jurusan Kehutanan Gelar Lokakarya Penyelamatan Pulau Tikus

JURUSAN Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu bekerjasama dengan Komunitas Mangrove Bengkulu dan didukung oleh Australia Award in Indonesia melalui skema Alumni Grant Scheme, menggelar lokakarya Penyelamatan Pulau Tikus dan Pesisir Bengkulu untuk Kepentingan Ekologi, Ekonomi dan Sosial, di ruang rapat tiga gedung rektorat, Senin (28/8/2017) lalu.

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pihak dari unsur pemerintah, akademisi, nelayan, operator jasa wisata, media dan kelompok masyarakat lainnya. Lokakarya ini merumuskan bahwa perlu penanganan kolaboratif yang melibatkan seluruh pihak untuk menyelamatkan Pulau Tikus dari ancaman kehilangan daratan akibat laju abrasi tinggi.

“Kegiatan ini merupakan salah satu kontribusi nyata kita dalam pengelolaan sumberdaya alam di Bengkulu. Melalui lokakarya ini, kita merumuskan bahwa perlu penanganan kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak untuk menyelamatkan Pulau Tikus dari abrasi,” ujar Ketua Jurusan Kehutuanan UNIB, Yansen, Ph.D.

Dijelaskan Yansen, secara ekonomi, daerah pesisir merupakan kantong-kantong ekonomi masyarakat, salah satunya masyarakat yang berpofesi sebagai nelayan. Di samping itu, daerah pesisir juga menjadi salah satu kawasan wisata di banyak daerah. Namun, dengan semakin meningkatnya jumlah populasi, aktivitas pembangunan, dan juga degradasi lingkungan, daerah pesisir menjadi daerah yang terancam kelestariannya.

Dengan peran yang sangat penting dan ancaman yang ada, pengelolaan wilayah pesisir sangat diperlukan untuk menjaga dan mempertahankan sumberdaya alam dan jasa lingkungan pesisir. Pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam pesisir harus dilakukan secara komprehensif untuk mencapai keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian sumberdaya, serta mencari resolusi atas konflik pemanfaatan.

Pulau Tikus merupakan pulau kecil yang terletak di pesisir Kota Bengkulu, berjarak sekitar  5 mil dari daratan Sumatera. Saat ini luas pulau Tikus tinggal 0,66 ha dari luas total daratan sebelumya seluas 2 ha.  Pengurangan area pulau Tikus ini ini diakibatkan oleh tingkat abrasi yang tinggi. Bahkan, dalam kurun satu tahun terakhir, lebih dari 0,1 ha area yang tergerus.

Pulau Tikus dikelilingi oleh terumbu karang sebagai penyangga pulau dan menjadi salah satu benteng alami pesisir Kota Bengkulu. Saat ini, bukan hanya daratan pulau yang terancam oleh abrasi namun juga terjadi kerusakan terumbu karang.

Pulau ini tidak hanya menjadi benteng alami pesisir, namun juga dijadikan sebagai pedoman kapal pada saat berlayar dan shelter serta area penangkapan ikan bagi para nelayan. Area pulau ini juga menjadi tujuan wisata utama di Kota Bengkulu.

Upaya untuk menjaga keberlanjutan Pulau Tikus ini sudah banyak dilakukan, termasuk struktur penahan gelombang dan revegetasi. Namun, sepertinya revegetasi tidak mampu mencegah abrasi. Tanaman daratan yang ditanam, seperti cemara, kelapa dan waru tidak bertahan dari abrasi. Karena itu, Pemerintah Provinsi Bengkulu berencana untuk mereklamasi pulau tersebut.

“Tapi, apakah reklamasi ini betul-betul dapat menyelesaikan masalah, atau malah menimbulkan masalah baru, seperti kerusakan terumbu karang. Karena itu, perlu dipikirkan tindakan yang akan diambil secara lebih komprehensif. Melalui lokakarnya ini kita membuat rumusan yang bisa direkomendasikan kepada para pemangku kebijakan,” papar Yansen.

Di samping kegiatan lokakraya ini, Komunitas Mangrove Bengkulu bersama dengan Jurusan Kehutanan Universitas Bengkulu bersama para relawan melakukan percobaan penanaman mangrove di pesisir pulau Tikus pada Bulan Mei 2017. Pemerintah Provinsi Bengkulu, pada tahun 2016 sudah mencoba menanam mangrove di pulau Tikus ini, namun belum berhasil. Karena itu, penanaman saat ini dilakukan dengan jenis mangrove Rhizophora  stylosa yang lebih tahan air asin dan dapat hidup di substrat karang.

Karena arus yang deras, teknik penanaman dilakukan dengan “sistem bungkus” (Riley Encasement Methodology), yakni dengan menggunakan paralon sebagai pelindung anakan mangrove. Resiko kegagalan memang sangat tinggi, antara lain jika paralon sebagai pembungkus hanyut terbawa arus. Karena itu, inisiasi penanaman mangrove akan terus dimonitoring sampai tahun 2018.

Di samping itu, Komunitas Mangrove Bengkulu akan melakukan kampanye penyelamatan pesisir ke sekolah-sekolah dan komunitas lainnya. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Jurusan Kehutanan Universitas Bengkulu dan Komunitas Mangrove Bengkulu ini didukung oleh Pemerintah Australia melalui Skema Dana Hibah Alumni (Alumni Grant Scheme), yang diadministrasikan oleh Australia Awards in Indonesia, demikian Yansen.[Hms1/Ys]

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates